Wregas Bhanuteja, Lemantun : Tugas Akhir Yang Begitu Memukau dan Penghargaan Film Pendek di Festival Film Tertua di Dunia
Lemantun : Tugas Akhir Yang Begitu Memukau
Untuk yang belum tahu, Wregas Bhanuteja adalah seorang sutradara muda Indonesia yang sudah berlalu lalang di berbagai festival film dunia. Sutradara yang sampai saat ini masih berkecimpung khusus di ranah film pendek ini mulai tercium bakatnya kala ia menulis dan menyutradarai film Lemantun pada 2015 lalu.
Kala itu, film itu berhasil memborong penghargaan XXI Short Film Festival di semua kategori juri. Sejak saat itu, Wregas pun memulai petualangannya ke festival-festival film. Wregas akhirnya mendapatkan rekognisi internasional kala ia berhasil mendapatkan pengahargaan film pendek terbaik di ajang Semaine de la Critique, Festival Film Cannes 2016 untuk film pendeknya yang berjudul Prenjak / In The Year of Monkey.
Saat itu, media-media nasional pun langsung heboh karena Wregas berhasil menjadi manusia Indonesia pertama yang berhasil meraih penghargaan di ajang Cannes, festival film tertua di dunia. Sebelumnya, Indonesia hanya berhasil meraih kehormatan filmnya diputar di ajang itu. Tercatat, Tjoet Nja' Dhien (1988), Daun di Atas Bantal (1998), Serambi (2005), Kara, Anak Sebatang Pohon (2005), dan The Fox Exploits The Tiger's Might (2015).
Di tanah air, Wregas pun sudah berhasil meraih penghargaan film pendek terbaik di Festival Film Indonesia 2019 untuk filmnya, Tak Ada Yang Gila di Kota Ini.
Karena itulah, wajar bila ketika salah satu filmnya ditayangkan secara gratis di Youtube, penikmat film tanah air pun langsung menyerbu filmnya.
Lemantun Adalah Film Sederhana Dengan Makna Dalam yang Mengharukan
Lemantun adalah film yang begitu simpel tapi begitu mengena di hati. Terkadang memang, film yang paling terasa maknanya adalah film yang memiliki cerita yang sangat sederhana. Tidak membutuhkan plot yang rumit dan berputar-putar. Cukup dengan cerita keluarga simpel dan digarap dengan konsep yang sesederhana mungkin, film tersebut akan sukses mengacak-acak perasaan dengan jalinan kisahnya.
Lemantun yang 'hanya tugas akhir' seorang Wregas Bhanuteja ini sudah cukup untuk memperkenalkan seorang sutradara muda Indonesia yang akan menghiasi dunia perfilman tanah air dalam berpuluh tahun ke depan.
Jujur, walau gue belum pernah menonton film-filmnya Wregas, tetapi membaca profilnya saja sudah cukup meyakinkan gue kalau dia bukanlah sutradara sembarangan. Ia adalah orang Indonesia pertama yang berhasil meraih piala dari ajang festival film tertua di dunia, Festival Film Cannes.
Dan usai menonton Lemantun, gue pun langsung percaya di mana letak keistimewaan seorang Wregas Bhanuteja. Ia adalah sutradara yang mampu menyederhanakan sebuah kisah manusia tanpa mengurangi makna kehidupan itu sendiri. Lemantun juga seperti itu. Meski begitu sederhana, film ini memiliki makna yang sangat bagus.
Lemantun bercerita tentang seorang ibu yang hendak membagikan warisan pada kelima anaknya. Warisan tersebut bukanlah berupa rumah, tanah, atau bahkan uang ratusan juta Rupiah. Warisannya adalah berupa lemari yang dibeli oleh sang ibu setiap mereka lahir.
Sederhana bukan, tetapi cerita sederhana itu tetap memiliki pemaknaan yang begitu indah. Lemari dibuat sebagai representasi dari rahim ibu yang dapat melindungi anak-anaknya. Sebuah tempat aman yang hangat di dinginnya ruangan.
Dalam sebuah esai, penulisnya memaknai film ini sebagai cara manusia menghargai semesta. Tidak perlu dengan cara-cara rumit, tetapi hanya butuh menghargai sebuah pemberian. Sesederhana apapun barang pemberian itu, bila dihargai dengan setulus hati ia akan menjadi sebuah barang yang menyelamkan.
Overall, Lemantun adalah film pendek yang begitu indah dalam kesederhanaannya. Kesederhanaan kisah ini sama sekali tidak mengurangi makna film ini. Sebuah film dengan makna yang dalam dengan ramuan sederhana. Adios.
Referensi: Biodata Wregas dikutip dari Wikipedia dan website Cannes.

0 Response to "Wregas Bhanuteja, Lemantun : Tugas Akhir Yang Begitu Memukau dan Penghargaan Film Pendek di Festival Film Tertua di Dunia"
Post a Comment